Sabtu, 25 Desember 2010

OBAT JANTUNG

Obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya (Tjay, 2002).
Jantung (bahasa latin, cor) adalah sebuah rongga, rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari Yunani cardia untuk jantung. Jantung adalah salah satu organ yang berperan dalam system peredaran darah (http://www.wikipedia.com, diakses 26 Desember 2008).
Jantung merupakan suatu organ otot berongga yang terletak di pusat dada. Bagian kanan dan kiri jantung masing-masing memiliki ruang sebelah atas (atrium yang mengumpulkan darah dan ruang sebelah bawah (ventrikel) yang mengeluarkan darah. Agar darah hanya mengalir dalam satu arah, maka ventrikel memiliki satu katup pada jalan masuk dan satu katup pada jalan keluar. Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan membersihkan tubuh dari hasil metabolisme (karbondioksida). Jantung melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida. Jantung kemudian mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke jaringan di seluruh tubuh (Sanjoyo, 2005).
Secara sederhana, (Olson james, 2004)
·         Jantung adalah sebuah pompa.
·         Jantung memompa darah melalui sistem pembuluh darah yang mempunyai kapasitas volume yang terbatas.
·         Suatu sistem penghanataran elektrik memelihara frekuensi dan irama yang teratur
·         Sel miokardium membutuhkan oksigen
            Kedudukan jantung. Jantung berada dalam thorax, antara kedua paru-paru dan di belakang sternum, dan lebih menghadap kekiri daripada kekanan. Ukuran jantung kira-kira sebesar kepalan tangan. Jantung dewasa beratnya antara 220 sampai 260 gram. Jantung terbagi oleh sebuah septum (sekat) menjadi dua belah, yaitu kiri dan kanan. Setiap belahan kemudian dibagi lagi dalam dua ruang, yang atas disebut atrium dan yang bawah ventrikel. Maka dikiri terdapat 1 atrium dan 1 ventrikel, dan di kanan juga 1 atrium dan 1 ventrikel. Disetiap sisi ada hubungan antara atrium dan ventrikel melalui lubang atrio-ventrikuler dan pada setiap lubang tersebut terdapat katup. Kanan bernama katup (valvula) trikuspidalis dan yang kiri katup mitral atau katup bikuspidalis. Katup atrio-ventrikuler mengizinkan darah mengalir hanya ke satu jurusan, yaitu dari atrium ke ventrikel dan menghindarkan darah mengalir kembali dari ventrikel ke atrium (Pearce, 2002).

Gambar1. Jantung tampak depan

Fungsi jantung
Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol), selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua atrium mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua ventrikel juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan.
Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida dari seluruh tubuh mengalir melalui 2 vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan.
Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan.
Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah diantara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner.
Darah dalam atrium kiri akan didorong ke dalam ventrikel kiri, yang selanjutnya akan memompa darah yang kaya akan oksigen ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru.
Gambar3. Ruang dan Katup Jantung


Gambar2. Jantung (potongan melintang/bagian dalam)
Pembuluh darah
Keseluruhan sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri dari arteri, arteriola, kapiler, venula dan vena.
Arteri (kuat dan lentur) membawa darah dari jantung dan menanggung tekanan darah yang paling tinggi. Kelenturannya membantu mempertahankan tekanan darah diantara denyut jantung. Arteri yang lebih kecil dan arteriola memiliki dinding berotot yang menyesuaikan diameternya untuk meningkatkan atau menurunkan aliran darah ke daerah tertentu.
Kapiler merupakan pembuluh darah yang halus dan berdinding sangat tipis, yang berfungsi sebagai jembatan diantara arteri (membawa darah dari jantung) dan vena (membawa darah kembali ke jantung). Kapiler memungkinkan oksigen dan zat makanan berpindah dari darah ke dalam jaringan dan memungkinkan hasil metabolisme berpindah dari jaringan ke dalam darah.
Dari kapiler, darah mengalir ke dalam venula lalu ke dalam vena, yang akan membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki dinding yang tipis, tetapi biasanya diameternya lebih besar daripada arteri, sehingga vena mengangkut  darah dalam volume yang sama tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dan tidak terlalu dibawah tekanan (Sanjoyo, 2005).
Jantung hampir sepenuhnya diselubungi oleh paru-paru, namun tertutup oleh selaput ganda yang bernama perikardium, yang tertempel pada diafragma. Lapisan pertama menempel sangat erat kepada jantung, sedangkan lapisan luarnya lebih longgar dan berair, untuk menghindari gesekan antar organ dalam tubuh yang terjadi karena gerakan memompa konstan jantung (http://www.wikipedia.com, diakses 26 Desember 2008).
            Jantung dijaga di tempatnya oleh pembuluh-pembuluh darah yang meliputi daerah jantung yang merata/datar, seperti di dasar dan di samping. Dua garis pembelah (terbentuk dari otot) pada lapisan luar jantung menunjukkan di mana dinding pemisah di antara sebelah kiri dan kanan serambi (atrium) & bilik (ventrikel) (http://www.wikipedia.com, diakses 26 Desember 2008).
            Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol). Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan.
Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam serambi kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam bilik kanan.
Darah dari bilik kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan.
Darah yang kaya akan oksigen (darah bersih) mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke serambi kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam serambi kiri akan didorong menuju bilik kiri, yang selanjutnya akan memompa darah bersih ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru (http://www.wikipedia.com, diakses 26 Desember 2008).



1.         Penyakit Jantung Iskemik
Secara sederhana, penyakit jantung iskemik terjadi bila suplai oksigen ke jantung tidak mencukupi kebutuhan. Hal ini sering berarti pembuluh darah koroner mengalami pengurangan diameter sehingga membatasi aliran darah ke jantung (Stringer, 2008).
Secara farmakologis, pengobatan penyakit arteri koroner difokuskan pada pengurangan kebutuhan oksigen miokardial.
Iskemia jantung timbul panila terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen disatu pihak dengan kebutuhan oksigen otot jantung dipihak lain. Gangguan keseimbangan ini dapat terjadi apabila suplai menurun (misalnya ateroskelrosis atau spasme koroner) atau kebutuhan meningkat (misalnya kerja fisik) (Ganiswarna, 1995).
Jenis angina yang dikenal adalah (Tjay, 2002):
·         Angina stabil, akibat penciutan arteri jantung (stenosis) atau juga akibat kejang yang terjadi selama atau sesudah mengerahkan tangan (exertion) atau emosi.
·         Angina instabil, yaitu angina stabil yang mendadak sangat memperburuk dan dapat merupakan indikasi akan timbulnya infrak jantung.
·         Angina variant atau angina prinzmetal, akibat kejang sementara arteri jantung. Serangan nyeri timbul spontan dalam keadaan istirahat dan kebanyakan di malam hari. Bentuk ini jarang terdapat.
Tindakan dan cara hidup tyang berikut juga berlaku bagi calon/ pasien infrak jantung, yakni:
1.    Berhenti merokok
2.    Membatasi minum kopi dan alcohol
3.    Meniadakan overweight (diet lemak dan kolesterol)
4.    Menghindarkan beban berat
5.    Berjalan 0,5 – 1 jam sehari
6.    Mengobati hipertensi
Pengobatan pada iskemia pada angina dapat ditangani dengan sejumlah obat yaitu (Tjay, 2002):
1.    Nitrogliserin, untuk menaggulangi serangan akut, bila perlu bersama suatu analgetikum narkotik (morfin, fentanil) untuk melawan nyeri dan sedasi.
2.    Beta-blockers (zat-zat penghemat penggunaan oksigen) pada angina stabil/ instabil untuk mengurangi kebutuhan oksigen.
3.    Vasodilator korner, antara lain nitrat long-acting (isosrbid dinitrat) dan antagonis Ca (diltiazem dan verapamil) untuk memperlancar irkulais darah dan oksigen. Nifedipin short-acting tidak dianjurkan berhubung dengan laporan mengenai efek karsinogennya pada jangka panjang
Untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokardial, bloker β dapat digunakan untuk menurunkan denyut dan kontraktilitas jantung. Bloker saluran kalsium menurunkan resistensi vaskular sistemik dan mengurangi kontraktilitas miokardial. Nitrat akan menyebabkan dilatasi vena sehingga akan menurunkan preload dan menurunkan kebutuhan oksigen oleh jantung (Stringer, 2008).
2.       Gagal Jantung Kongestif
Gagal jantung terjadi bila jantung tidak dapat lagi memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Seperti setiap pompa mekanis, gagal jantung terjadi bila jantung bekerja terlalu keras untuk waktu yang lama (Olson James, 2004).
Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah beroksigen yang cukup untuk emmenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Strategi pengobatan farmakologik meliputi perbaikan kontraktilitas miokardial atau penurunan beban kerja jantung (Olson James, 2004).
Gagal Jantung Kongestif (GJK) adalah sindrom klinik yang ditimbulkan oleh gangguan fungsi jantung yang dapat berupa menurunnya kontraktilitas, berkurangnya massa jantung yang berkontraksi, gangguan sinergi kontraksi atau berkurangnya kelenturan. Sindrom ini terjadi karena curah jantung tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh (Ganiswarna, 1995).
Penyebab dasar gagal jantung kongestif antara lain penyakit jantung arteriosklerosis, penyakit hipertensi, penyakit katup jantung, kardiomiopati yang melebar, penyakit jantung kongenital (Mycek, 2001).
Kebanyakan penderita gagal jantung memperlihatkan gangguan fungsi sistolik. Pada penderita demikian  terapi obat dimaksudkan untuk menghilangkan gejala bendungan sirkulasi dengan memperbaiki kontraktilitas miokard dan mengurangi beban pengisian ventrikel (preload = beban hulu) dan menurunkan tekanan perifer (afterload = beban hilir). Obat-obat utama untuk tujuan itu adalah glikosida digitalis dan zat ionotropik lainnya untuk memperbaiki kontraktilitas, diuretik untuk mengurangi beban hulu dan juga pada akhirnya beban hilir, serta vasodilator yang mengurangi beban hilir (Ganiswarna, 1995).
Target pengobatan gagal jantung adalah penurunan beban kerja jantung, pengontrolan kelebihan cairan, dan peningkatan kontraktilitas miokardial (Stringer, 2008).
3.        Penurunan Beban Kerja Jantung
Inhibitor enzim pengubah angiotensin (ACE) mengurangi gejala-gejala gagal jantung dengan menurunkan beban kerja jantung (Stringer, 2008).
Penurunan beban kerja jantung dapat dicapai hanya dengan menguarangi aktivitas fisik. Secara farmakologis, terapi vasodilator dapat digunakan inhibitor ACE. Inhibitor ACE terbukti memperbaiki gejala-gejala, memperlambat progresi gagal jantung dan memperpanjang ketahanan hidup. Antagonis angiotensin II juga digunakan (Stringer, 2008).
Penghambat ACE (enalapril, lisinopril, dan lain-lain) banyak digunakan pada gagal jantung kronis, juga setelah infrak pada pasien tertentu. AT-II-blokers (losartan, valsartan, irbesartan, dan lain-lain) kini sudah mulai digunakan. Obat-obat ini berkhasiat vasodilatasi perifer dan mengurangi preload dan afterload darah, yakni beban darah masing-masing sebelum dan sesudah mencapai jantung (Tjay, 2002).
Terapi  gagal jantung ringan biasanya dimulai dengan Inhibitor ACE. Inhibitor ACE( misalnya captopril) menurunkan beban pada jantung dan uji klinis telah menunjukkan bahwa inhibitor ACE  menurunkan gejala dengan memperlambat progresi penyakit, dan memperpanjang hidup pada gagal  jantung kronis (Neal, 2006). 
Pada  gagal jantung yang telah berat ,ditambahkan suatu diuretik, yang meningkatkan ekskresi natrium dan air. Dengan menurunkan volume dalam sirkulasi maka preload dan edema akan berkurang. Tiazid bisa saja cukup, namun seringkali dibutuhkan diuretik loop.
Bila gagal jantung sangat berat dimana kombinasi diuretik dengan inhibitor ACE gagal untuk menghasilkan respon yang kuat, maka bisa ditambahkan Digoksin yang merupakan obat inotropik. Semua inotropik meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dengan menambah peningkatan kalsium sitosol yang terjadi pada potensial aksi. Digoksin menghambat Na+ / K+ - ATPase membran. Semua obat inotropik cenderung menyebabkan aritmia karena kalsium sitosol yang berlebihan dapat memicu aliran membran aritmogenik.
Uji terbaru menunjukkan bahwa pada gagal jantung ringan, sedang dan berat, penambahan Beta bloker semakin menurunkan mortalitas pada pasien yang mendapat Inhibitor ACE dan diuretik ( dengan atau tanpa digoksin). Pada pasien dengan gagal jantung berat dengan segala yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi standar, penambahan sprinolakton telah menunjukkan  penurunan angka mortalitas.
Inhibitor ACE (misalnya kaptopril, enalapril) merupakan vasodilator yang paling sesuai pada gagal jantung, karena dapat menurunkan resistensi arteri maupun vena dengan mencegah peningkatan angiotensin II (vasokonstriktor) yang sering ditemukan pada gagal jantung. Curah jantung meningkat dan karena terjadi penurunan resistensi renovaskuler, terjadi peningkatan aliran darah ginjal. Efek yang terakhir ini, bersama dengan pelepasan aldosteron yang berkurang (angiotensin II merupakan stimulus untuk pelepasan aldosteron), meningkatkan ekskresi Na+ dan H2O, menurunkan volume darah dan mengurangi aliran balik vena ke jantung. Inhibisi ACE juga mengurangi efek pertumbuhan langsung yang dilakukan angiotensin pada jantung. Antagonis angiotensin (misalnya losartan) bisa atau tidak bisa mempunyai efek mengutungkan yang sama seperti inhibitor ACE. Vasodilator lain (misalnya isosrbid mononitrat dengan hidralazin) saat ini hanya digunakan pada pasien yang tidak dapat mentoleransi inhibitor ACE (Neal, 2006).
Bloker β juga diketahui memiliki kegunaan dalam pengobatan gagal jantung. Meskipun bloker β dapat mengurangi kontraktilitas, penurunan stimulasi simpatis dapat menghasilkan manfaat jangka panjang (Stringer, 2008).
Bloker β secara akut dapat menurunkan kontraktilitas miokard dan memperberat gagal jantung. Akan tetapi, penggunaan jangka panjang dengan meyakinkan telah menunjukkan perbaikan ketahanna hidup pada pasien dengan gagal jantung yang stabil, kemungkinan dengan memblok efek perusakan dari aktivitas simpatis yang berlebihan (Neal, 2006).
Vasodilator lain juga dapat digunakan untuk mengurangi beban kerja jantung. Penelitian-penelitian telah membuktikan bahwa kombinasi hidralazin dan isosorbid dinitrat dapat menghasilkan perbaikan pada pasien gagal jantung. Nitroprusid digunakan untuk pengobatan gaggal jantung akut karena mengurangi baik preload maupun afterload tanpa mengurangi kontraktilitas (Stringer, 2008).
Vasodilator. Dalam gagal jantung kongestif, gangguan fungsi kontraksi jantung dipeerberat oleh peningkatan kompensasi pada preload dan afterload. Preload adalah volume darah yang mengisi ventrikel selama diastol. Peningkatan preload menyebabakan pengisian jantung berlebihan. Afterload adalah tekanan yang harus diatasi jantung ketika memompa darah ke sistem arterial. Peningkatan afterload menyebabakan jantung bekerja lebih kuat memompa darah ke sistem arterial. Vasodilatasi berguna untuk mengurangi preload dan afterload yang berlebihan. Dilatasi pembuluh darah vena menyebabkan berkurangnya preload jantung dengan meningkatkan kapasitas vena, dilator arterial menurunkan resistensi arteriol sistemik dan menurunkan afterload (Mycek, 2001).
Vasodilator koroner juga berefek mengurangi beban jantung, seperti nitroprusida (i.v.), prazosin dan hidralazin. Obat-obat ini menurunkan afterload dengan jalan vasodilatasi arteri. Nitrat sebagai dilator vena mengurangi perload darah (Tjay, 2002).
4.       Pengontrolan Kelebihan Cairan
Diuretik hampir selalu digunakan untuk mengontrol kelebihan penumpukan cairan pada keadaan gagal jantung.
Gagal jantung dihubungkan dengan retensi natrium dan air. Kontrol penumpukan cairan berlebih dapat menghilangkan gejala-gejala. Baris terdepan serangan adalah menurunkan asupan natrium dalam makanan. Diuretik juga digunakan untuk menghilangkan gejala-gejala tetapi tidak menghentikan progresi penyakit. Semua golongan diuretik dapat digunakan, pilihan bergantung pada keadaan klinis (Stringer, 2008).
Diuretik. Pada gagal jantung, berkurangnya volume darah arterial menyebabkan ginjal menahan air dan garam. diuretik akan mengurangi kongesti pulmonal dan edema perifer. Diuretik menurunkan volume plasma dan selanjutnya menurunkan vencus return ke jantung (preload). Ini mengurangi beban kerja jantung dan kebutuhan oksigen. Diuretik juga menurunkan afterload dengan mengurangi volume plasma sehingga menurunkan tekanan darah.
Sistem renin-angiotensin-aldosteron pun dipacu sehingga terbentuk angiotensin II yang merangsang sekresi aldosteron. Aldosteron menambah retensi natrium disertai pembuanagan kalium. Semua ini menyebabakan retensi cairan pada penyakit gagal jantung. Diuretik merupakan pilihan pertama pada gagal jantung kronik yang ringan dengan irama sinus. Pada fungsi ginjal normal, tiazid adalah obat terpilih untuk gagal jantung. Untuk diuretik kuat digunakan furosemid. Furosemid biasanya digunakan untuk menangani bendungan paru pada infark miokard akut. Penggunaan diuretik yang berlebihan dihindari sebab hipovolemia yang diakibatkannya akan mengurangi curah jantung, mengganggu fungsi ginjal, dan menyebabkan kelemahan umum (Ganiswarna, 1995; Mycek, 2001; Tjay, 2002).
5.       Peningkatan Kontraktilitas
Glikosida jantung. Glikosida jantung awalnya diisolasi dari tanaman Digitalis purpurea. Istilah digitalis adalah istilah umum yang biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu digoksin obat. Glikosida jantung (Digoksin dan Digitoksin) memperbaiki kontraktilitas jantung. Obat-obat ini menghambat Na+-K+-ATPase (Stringer, 2008).
Glikosida jantung (turunan digitalis dan obat serupa) suatu kelompok senyawa steroida yang dapat meningkatkan curah jantung dan mengubah fungsi listrik jantung. Efek terapeutik pada gagal jantung kongestif adalah suatu peningkatan kontraktilitas jantung (efek ionotropik positif), yang dapat memperbaiki gangguan keseimbangan yang dihubungkan dengan gagal jantung (Katzung, 2001).
     Digitoksin mempunyai waktu paruh lebih panjang, digitoksin lebih banyak diabsorpsi dari saluran cerna, digitoksin lebih banyak terikat protein, digitoksin dimetabolisme lebih luas sebelum ekskresi. Sedangkan digoksin tidak dimetabolisme sama sekali (Olson james, 2004).
     Intoksikasi digoksin/digitoksin: tanda-tanda toksisitas terjadi pada 10 – 25% pasien yang mendapat glikosida digitalis. Toksisitas seringkali fatal, dan terjadi lebih sering pada pasien yang mendapat thiazid atau diuretik boros-kalium lain (Olson james, 2004).
·         Tanda-tanda jantung: aritmia akibat meningkatnya otomatisitas (kemungkinan karena depolarisasi spontan), blok jantung parsial atau total yang disebabakan efek perlambatan nodus AV.
·         Saluran cerna: anoreksia, mual, muntah dan diare
·         Sistem saraf: mengantuk dan kelelahan
·         Gangguan penglihatan: penglihatan kabur, penglihatan ganda, tampak halo disekeliling benda, penglihtan warna tunggal (paling sering kuning atau hijau), tititk-titik kerlap-kerlip atau keliaatan cahaya.
·         Tanda-tanda lain: pusing atau pingsan dapat terjadi akibat penurunan tekanan darah. Ginekomastia.
Seringkali diuretik dikombinasi dengan digoksin, yang juga berdaya mengatasi resistensi diuretika dengan jalan memperbaiki volume-menit jantung. Zat-zat ionotrop positif lainnya, seperti dopaminergika (dopamin, ibopamin, dll.), tidak dianjurkan karena kerjanya terlalu kuat tanpa memiliki efek kronotrop negatif. Obat-obat ini hanya digunakan i.v. pada keadaan akut (shock jantung, dsb.). penghambatan fosfodiestersepun tidak dianjurkan berhubung efek buruknya terhadap sel-sel jantung (Tjay, 2002).
Obat ionotropik positif lain yang digunakan pada gagal jantung adalah dopaminergika, stimulan adrenoseptor-β dan penghambatan fosfodiesterase (Tjay, 2002; Katzung, 2001).
Dopaminergika / Stimulansia Adrenoreseptor-Beta. Dopamin (DA) adalah neurotransmitter sentral. Pada jaringan perifer terdapat dua jenis reseptor dopamin, yaitu reseptor DA1 dan DA2. Stimulasi reseptor ini oleh dopaminergika mengakibatkan efek yang sama dengan khasiat dopamin.
Reseptor DA1 terutama berada di otot polos jantung, otak dan ginjal. Aktivasi menimbulkan vasodilatasi, memperkuat kontraktilitas jantung (efek ionotrop positif), menderaskan penyaluran darah, ekskresi-Na dan diuresis. Dopaminergika DA1 yang menstimulasi reseptor DA1 adalah dopamin, dobutamin, dan ibopamin, yang khusus digunakan pada dekompoensasi dan pada shock jantung (Tjay, 2002).
Agonis selektif-β2 yang paling luas digunakan pada pasien dengan gagal jantung adalah dobutamin. Stimuli β-adrenergik memperbaiki kemampuan jantung dengan efek ionotropik spesifik dalam fase dilatasi. Dobutamin adalah obat ionotropik yang paling banyaka digunakan selain digitalis. Dobutamin menyebabkan peningkatan siklik-AMP intrasel, yang menyebabkan aktivasi protein kinase. Saluran kalsium lambat merupakan tempat penting fosforilasi protein kinase. Jika defosforilasi, masuknya ion kalsium ke dalam sel miokard meningkat, sehingga meningkat pula kontraksi. Dobutamin diberikan secara i.v. dalam pengobatan gagal jantung akut di Rumah sakit (Katzung, 2001; Mycek, 2001).
Penghambatan Fosfodiesterase. Inamrinon (dahulu amrinon) dan milrinon menghambat adenosin monofosfat siklik (cAMP) fosfodiesterase pada otot jantung dan otot vaskuler. Hal ini menyebabkan kerja ionotropik positif serta efek vasodilatasi. Selain itu, terjadi peningkatan denyut jantung (Stringer, 2008).
Obat-obat ini juga berkhasiat ionotrop positif dan vasodilatasi. Mekanisme kerjanya belum diketahui seluruhnya, antara lain menghambat phosphodilsterase type-3 (PDE-3) di miokard dan pembuluh, hingga kadar cAMP intraseluler dinaikkan (cyclic Adenyl Mono Phosphat). Hal ini mengakibatkan peningkatan resopsi kalsium dalam sel-sel miokard dengan efek perbaikan kontaktilitas jantung. Di jaringan otot polos, kadar cAMP yang meningkat dapat menurunkan penyerapan kalsium dengan efek vasodilatasi. Penggunaannya terbatas hanaya pada klinik untu terapi singkat dari bentuk hebat dekompensasi (akut) bila obat-obat lain kurang efektif. Kini digunakan antara lain amrinon dan milrinon (Tjay, 2002).
















BAB II
PEMBAHASAN
Obat Iskemik Jantung
Ø  Vasodilator koroner
a.      Nitrogliserin
Indikasi:
Penggunaan peroral untuk menaggulangi serangan angina akut secara efektif, begitu pula sebagai profilaksis jangka pendek. Secara intravena digunakan pada dekompensasi teretentu setelah infrak jantung (Tjay, 2002).
Digunakan untuk mencegah iskemik (Olson, 2004).
Mekanisme kerja:
Mendilatasi arteri miokardium besar untuk meningkatkan pasokan darah kejantung. Menurunkan beban awal jantung dengan mengurangi tonus vena. Hal ini memungkinkan pengumpulan darah di perifer (Olson, 2004).
Nitrat organik melalui pemebentukan radikal bebas nitrogen oksida (NO) menstimulasi guanilat siklase sehingga kadar siklik-GMP dalam sel otot polos meningkat. Selanjutnya siklik-GMP menyebabkan defosforilasi myosin sehingga terjadi relaksasi otot polos (Ganiswarna, 1995).


Efek samping:
Nyeri kepala dan (reflex) takikardia, juga hipotensi ortostatis, pusing, nausea, flushing, disusul dengan muka pucat. Bila efek terakhir timbul, maka pasien harus mengeluarkan sisa tablet dari mulut dan segera berbaring (Tjay, 2002).
Hipotensi dan takikardi balik, bradikardi, iskemia serebra, dermatitis, kontak dapat terjadi dengan preparat transdermal, edema perifer bertambah (Olson, 2002).
Farmakokinetik:
Sublingual: kadar puncak pada 1-2 menit, durasi 30 – 60 menit. IV: awitan 2 menit, durasi 3-5 menit. Transdermal: kadar puncak pada 30-60 menit, durasi = 1 hari. Pasta topical: awitan 1 jam, durasi = 2 – 12 jam. Setelah diabsorpsi, hati cepat memetabolisme obat menjadi bentuk tidak aktif. Toleransi dapat terjadi dengan pemberian transdermal kontinu (Olson, 2002).
Kontra indikasi:
Hipersensitivitas pada golongan obat nitrat organik
Interaksi Obat:
Alkohol, zat antihipertensi dan vasodilator meningkatkan resiko hipotensi ortostatik (Olson, 2004).
Dosis:
Pada serangan akut dibawah lidah 0,4 – 1 mg sebagai tablet, spray atau kapsul (harus digigit), jika perlu dapat diulang sesuadh 3-5 menit. Bial efek sudah dicapai, obat harus dikeluarkan dari mulut. Profilaksis: tabalet retard (Nitro mack) 2,5-5 mg diletakkan antara gigi dan bibir atas. Salep 2% (nitro-bis0: 3x sehari 7,5 – 30 mg pada dada, perut atau lengan. Plester: 1 dd 5-10 mg, menghindari toleransi, sebaiknya plester hanya digunakan siang hari dan malam hari sewaktu tidur dilepas (Tjay, 2002).
Nama paten:
Gliserilnitrat
Trinitrin
Nitrostat
Nitroderm TTS (plester)
Nitrolingual spray
Minitran® (Darya varia)
Nitrochin® (Pharos)
b.      Isosrbid dinitrat
Indikasi:
Digunakan untuk profilaksis angina, bukan untuk serangan akut (Olson, 2004).
Mekanisme kerja:
Nitrat organik melalui pemebentukan radikal bebas nitrogen oksida (NO) menstimulasi guanilat siklase sehingga kadar siklik-GMP dalam sel otot polos meningkat. Selanjutnya siklik-GMP menyebabkan defosforilasi myosin sehingga terjadi relaksasi otot polos (Ganiswarna, 1995).
Efek samping:
Hipotensi dan takikardi balik, bradikardi, iskemia serebra, dermatitis, kontak dapat terjadi dengan preparat transdermal, edema perifer bertambah (Olson, 2002).
Farmakokinetik:
Isosorbid dinitrat sublingual, kadar maksimal dalam plasma tercapai dalam 6 menit, dan waktu paruhnya 45 menit. Metabolitnya, isosrbid -2-mononitrat dan isosorbid-5-mononitrat mempunyai waktu paruh yang kebih panajang (2-5 jam) dan diduga ikut menentukan efek terapi isosorbid dinitrat. Pada pemeberian oral, sebagaian besar/hamper seluruh dosis dimetabolisme dihati pada lintasan pertama sehingga bioavailabilitas oral obat-obat ini rendah, misalnya bioavailabilitas oral isosorbid dinitrat 22% dan nitrogliserin 1%. Eksresi utama dalam bentuk glukoronid dari metabolit dinitrat, sebagiana besar melalui ginjal (Ganiswarna, 1995).
Resorpsinya juga baik, tetapi karena FPE besar, BA-nya hanaya ca 29%. PP-nya lebih kurang 30%, t1/2-nya 30 – 60 menit. Di dalam hati zat ini dirombak pesat menjadi 2 metabolit aktif: isosrbid-2-mononitrat dan isosorbid-5-mononitrat dalam perbandingan ca 4:1 dan t1/2 masing-masing lebih kurang 4,5 dan 2 jam (Tjay, 2002).
Kontra indikasi:
Hipersensitivitas pada golongan obat nitrat organik
Interaksi Obat:
Alkohol, zat antihipertensi dan vasodilator meningkatkan resiko hipotensi ortostatik (Olson, 2004).
Dosis:
Pada serangan akut atau profilaksis, sublingual tablet 5 mg, bila perlu diualng sesudah beberapa menit. Interval: Oral 3 dd 20 mg d.c. atau tablet/kapsul retard maksimum 1-2 dd 80 mg. spray 1,25-3,75 mg (1-2 semprotan) (Tjay, 2002).
Kekuatan Obat:
5 mg, 10 mg, 20 mg/tablet bawah lidah
Bentuk sediaan:
Tablet, kapsul, spray
Nama paten:
Cardismo® (Pharpos)
Cedocard® (Cedona, Darya varia)
Cedocard-20® (Cedona, Darya varia)
Cedocard® retard (Darya varia)
Farsorbid® (Fahrenheit)
Imdur® (Astrazeneca)
Isodril® (sunthi sepuri, Wyeth)
Monecto® (Fahrenheit)
Pentacard® (Darya varia)
Sorbidin® (Merck)
Vascardin® (Nicholas)
c.      Dipiridamol
Indikasi:
Pada angina dianggap obsolete, karena kurang efektif.
Mekanisme kerja:
Sebagai penghambat fosfodiesterase berdaya inotrop positif lemah tanpa menaikkan penggunaan oksigen dan vasodilatasi, juga terhadap arteri jantung (Tjay, 2002).
Obat ini adalah vasodilator koroner yang poten, kerjanya lebih kuat pada pembuluh darah koroner dibandingkan pembuluh darah perifer (Ganiswarna, 1995).
Efek samping:
Gabgguan lambung-usus, nyeri kepala, pusing, dan palpitasi yang bersifat sementara (Tjay, 2002).
Farmakokinetik:
Dari usus bervariasi dengan BA 30-65%. PP-nya diatas 90%, t1/2-nya 11 jam, didalam hati zat ini dirombak dan metabolitnya dieksresi lewat tinja setelah peredaran enterohepatis (Tjay, 2002).

Dosis:
Pada angina oral 3 dd 50 mg 1 jam a.c., pada bedah katup jantung 4 dd 75 – 100 mg a.c. (Tjay, 2002).
Kekuatan Obat:
25 mg; 50 mg; 75 mg/tablet
Bentuk sediaan:
Tablet, kaplet
Nama paten:
Cardial® (Meprofarm)
Dilasan® (Gratia Husada Farma)
Persantin® (Boehringer Ingelheim)
Vasokor® (Medikon Prima)
Vasotin® (Metiska Farma)
Ø  Β-blocker
a.      Propanolol
Indikasi:
Kardiosupresi pada infark miokard akut dan angina tak stabil (Olson, 2004).
Mengurangi frekuensi dan keparahan serangan angina. Obat ini berguna dalam pengobatan pasien dengan infark jantung (Mycek, 2001).


Mekanisme kerja:
Memblok reseptor β1 dan β2. Menurunkan frekuensi jantung dan curah jantung dana menurunkan pelepasan rennin. Bronkokonstriksi melalui antagonism reseptor β2 (Olson, 2001).
Efek samping:
Sebagian besar efek samping umumnya bersifat ringana dana sementara dan jarang timbul setelah terapi dihentikan.
Hipertensi sementara akibat antagonism reseptor β2 (yang mendilatasi arteri besar) dan respon reflex terhadap pwenurunan curah jantung, bronkospasme, dan lain-lain (Olson, 2004).
Kontra indikasi:
Diabetes berat, bradikardi, blok jantung parsial, gagal jantung, asma, emfisemia (Olson, 2004).
Interaksi Obat:
Simetidin meningkatkan kadar propanolol serum
Dosis:
Dosis total sehari adalah 80-320 mg yang dibagi dalam 2-4 dosis. Dosis tersebut terbukti dapat meningkatkan toleransi latihan dan mengurangi tanda-tanda iskemia pada EKG. Jika pengobatan akan dihentikan, kurangi dosis secara bertahap selama beberapa minggu.
Oral 2-3 dd mg d.c.m bila perlu dinaikkan interval 1 minggu sampai 320 mg sehari (Tjay, 2002).
Kekuatan Obat:
10 mg; 40 mg/tablet
Bentuk sediaan:
Tablet
Nama paten:
Farmadral® (Fahrenheit)
Inderal® (Astra Zeneca)
Ø  Antagonis Ca
a.      Nifedipin
Indikasi:
Mengobati angina stabil dan varian ; hipertensi
Mekanisme kerja:
Vasodilatasi perifer lebih poten. Sedikit depresi nodus. Tidak mendilatasi arteri koroner. Menyebabkan refleks peningkatan frekuensi dan curah jantung (Olson, 2004).
Vasodilatasi kuat dengan hanya kerja ringan terhadap jantung. Efek ionotrop negatifnya ditiadakan oleh vasodilatasi, bahkan frekuensi jantung serta cairan output justru dinaikkan sedikit akibat antara lain turunnya afterload (volume darah yang dipompa keluar jantung ke arteri) (Tjay, 2002).
Efek samping:
Edema perifer, pusing, mual, hipotensi sementara, infark miokard, refleks takikardi, edema paru
Farmakokinetik:
Peroral/sublingual absorpsi sublingual lengkap, cepat. 98% terikat protein. Metabolit tak aktif, waktu paruh 3 jam
Kontra indikasi:
Hipotensi
Interaksi Obat:
Beta-bloker meningkatkan resiko hipotensi berat, gagal jantung dan angina. Nifedipin meningkatkan antikoagulan oral. Simetidin meningkatkan kadar nifedipin
Dosis:
Angina dan hipertensi pagi hari 30 mg tablet retard, berangsur-angsur dinaikan sampai 1 dd 120 mg
Kekuatan Obat:
5 mg; 10 mg;
Bentuk sediaan:
Tablet
Nama paten:
Adalat® (Bayer)
Adalat® oros (Bayer)
Adalat® retard (Bayer)
Calcianta® (Armoxindo)
Carvas® (Meprofarm)
Cordalat® (Kimia Farma)
Coronipin® (Dexa medica)
Farmalat® (Fahrenheit)
Fedipin® (Medikon)
Infacard® (Indofarma)
Kemolat® (Phyto Kemo Agung)
Nifecard® (Phapros)
Nifedin® (Sanbe Farma)
Niprocor® (Yekatria Farma)
Vasdalat® (Kalbe Farma)
Vasoner® (Hersen)
Xepalat® (Metiska Farma)
Zendalat® (Zenith)
b.      Verapamil
Indikasi:
Angina varian/stabil, hipertensi dan aritmia tertentu (antara lain takikardia supraventrikel fibrilasi serambi).
Mengurangi frekuensi angina dan kebutuhan nitrat. Obat terapi untuk takikardi supraventrikuler dan proksismal akut. Memperlambat respons ventrikel terhadap fibrilasi atrium. Hipertensi (Olson, 2004).
Mekanisme kerja:
Memblok influs kalsium, mendilatasi arteriol perifer, menurunkan beban akhir, memperlambat nodus AV, mencegah irama reentrant, melindungi miokardium selama iskemia singkat. Mempunyai aktivitas pemblokan adrenergik-alfa (Olson, 2004).
Vasodilatasinya tidak sekuat nifedipin, tetapi efek ionotrop negatifnya lebih besar. Bekerja kronotrop negatif ringan dan memperlambat penyaluran implus AV (Tjay, 2002).
Efek samping:
Konstipasi, hipotensi, bradikardi, edema, gagal jantung kongestif, blok nodus AV (jarang), gangguan saluran cerna, pusing.
Farmakokinetik:
PO/IV. Diabsorpsi dengan baik, 80% dimetabolisme dalam lintasan pertama, 90% tetrikat protein. Metabolit aktif. Waktu paruh 5 jam tapi bisa sampai 20 jam pada pasien dengan sirosis.
Kontra indikasi:
Pasien dengan digitalis atau bloker beta IV. Blok nodus AV, sick sinus syndrome, syok kardiogenik, gagal jantung, hipotensi
Interaksi Obat:
Bloker β atau digitalis; meningkatkan kemungkinan bradikardi atau blokade AV. Kuinidin atau prazosin: menambah hipotensi. Kadar digoksin meningkat. Simetidin mengurangi bersihan verapamil. Suplemen kalsium dapat menghambat kerja verapamil.



Dosis:
Angina varian/stabil, aritmia dan hipertensi: oral semula 3-4 dd 80 mg, pemeliharaan 4 dd 80-120 mg; tablet SR (slow release): 1-2 dd 240 mg.
Kekuatan Obat:
80 mg/tablet; 240 mg/kaplet
Bentuk sediaan:
Tablet, Kaplet
Nama paten:
Cardiover® (Landson)
Isoptin/isoptin SR® (Yunggal IA, Knoll)
c.      Diltiazem
Indikasi:
Angina varian/stabil, hipertensi dan aritmia tertentu (Tjay, 2002).
Mekanisme kerja:
Antagonis kalsium yang bekerja menghambat influks ion kalsium selama depolarisasi membran pad otot jantung dan otot polos vaskuler.
Efek samping:
Edema, sakit kepala, pusing, astenia, mual, ruam.
Farmakokinetik:
PO. Bioavailabilitas 50% setelah dosis oral, 75% terikat protein, waktu paruh = 3 jam, metaboli aktif. Kurangi dosis pada pasien dengan disfungsi ginjal-hati
Kontra indikasi:
Blok nodus AV, sick sinus syndrome, hipotensi, kongesti paru.
Interaksi Obat:
Beta bloker dan digoksin meningkatkan waktu konduksi AV. Diltiazem meningkatkan kadar propranolol. Simetidin dan obat yang dimetabolisme oleh P-450 meningkatkan kadar diltiazem.
Dosis:
Angina dan hipertensi semula oral 3-4 dd 60 mg, maksimum 3 dd 120 mg.
Kekuatan Obat:
30 mg; 60 mg/tablet; 90mg/kapsul
Bentuk sediaan:
Tablet, kapsul, injeksi
Nama paten:
Carditen® (Dankos)
Delbres® (Hersen)
Dilmen® (Sabe farma)
Farmabes® (Fahrenheit)
Herbesser® (Tanabe Indonesia)
Herbesser® 60 (Tanabe Indonesia)
Herbesser® 90 SR (Tanabe Indonesia)
Herbesser® 180 SR (Tanabe Indonesia)
Herbesser® CD 100 (Tanabe Indonesia)
Herbesser® CD 200 (Tanabe Indonesia)
Herbesser® Injection(Tanabe Indonesia)
Recordil® (Rama farma)

















Penghambat ACE
a.     Captopril
Indikasi:
Hipertensi. Terutama berguna untuk hipertensi dengan renin yang tinggi. Obat yang disukai untuk pasien hipertensi dengan nefropati  diabetik karena dengan kadar glukosa tidak dipengaruhi. Digunakan pada pengobatan gagal jantung dengan diuretik dan digitalis. Dilatasi vena menurunkan tekanan pengisian (preload) dan dilatasi arteriol menurunkan afterload. Pengurangan tonus vascular menurunkan kerja serta kebutuhan oksigen pada gagal jantung
Mekanisme kerja:
Captopril merupakan vasodilator yang paling sesuai pada gagal jantung, karena dapat menurunkan resistensi arteri maupun vena dengan mencegah peningkatan angiotensin II (vasokotrikstor) . Curah jantung meningkat dan karena terjadi penurunan resistensi renovaskuler, terjadi peningkatan aliran darah ginjal. Efek ini bersamaan dengan pelepasan aldesteron yang berkurang ( angiotensin II menstimulus pelepasan aldosteron), meningkatkan sekresi Natrium dan H2O ,menurunkan volume darah dan mengurangi aliran balik vena ke jantung.
Efek samping:
Gangguan fungsi ginjal (insufiesiensi) dan hiperkalemia, terutama pada pasien gagal jantung, hipotensi dapat terjadi pada permulaan terapi atau setelah peningkatan dosis , dianjurkan dimulai dengan dosis rendah.Sesak napas dengan menimbulkan atau memperburuk gejala pada pasien asma.Batuk kering.
Semua penghambat ACE dapat menyebabkan batuk yang menggeletik dan menjemukan selama medikasi. Penyebabnya adalah bradikidin dan prostaglandin di saluran napas dan paru-paru yang sebetulnya dirombak pula oleh ACE, akibatnya penghambatannya  berakumulasi disitu.
Farmakokinetik:
Separuh diekskresikan dalam bentuk tidak diubah di urin. Durasi lebih lama pada pasien dengan disfungsi ginjal. Resorpsi dari usus cepat untuk ca 75% efeknya sudah maksimal setelah 1,5 jam dan bertahan 12-24 jam tergantung pada dosis. PP-nya 25-30%, plasma t1/2 2-3 jam ,ekskresinya lewat kemih separuhnya sebagai metabolit inaktif dan separuhnya utuh.
Kontra indikasi:
Penderita yang hipersensitivitas terhadap kaptopril atau penghambat ACE lainnya.
Interaksi obat:
Efek antihipertensi dan hipotensi meningkat dengan diuretik, bloker simpatis. Kalium serum meningkat dengan diuretik hemat kalium. Efek antihipertensi menurun dengan indometasin (Olson, 2004).
Dosis:
Hipertensi: oral 1-2 dd 25 mg, bila perlu setelah 2-3 minggu 1-2 dd 50 mg; dekompensasi: 3 dd 6,25-12,5 mg, berangsur-angsur dinaikkan sampai 3 dd 25 – 50 mg. Setelah infrak jantung: semula 6,25 mg, berangsur-angsur dinaikkan sampai 2 -3 dd 50 mg.
Kekuatan obat:
12, 5 mg/ tablet, 25 mg/ tablet; 50 mg/tablet
Bentuk sediaan:
Tablet
Nama paten:
 Capoten® (Bristol-Myers squibb)
Captensin® (Kalbe)
Dexacap® (Dexa Medica)
b.     Enalapril
Indikasi:
Hipertensi ringan sampai berat dan hipertensi renovaskular, gagal jantung dengan diuretik dan digitalis.
Mekanisme kerja:
Dikonversi menjadi asam enaloprilat yang bekerja seperti kaptopril.
Efek samping:
Semua penghambatan ACE; dosis pertama hipotensi, pusing, proteinuria, ruam, takikardi, sakit kepala.


Farmakokinetik:
Dimetabolisme menjadi obat aktif. Durasi panjang, turunkan pada disfungsi ginjal.
Resorpsi prodrug ini dari usus cepat sampai; didalam hati dihidrolisa menjadi enalapriat aktif dengan PP ca 55% dan t1/2 ca 11 jam. Efeknya maksimal setelah 4 – 6 jam dan bertahan lebih kurang 24 jam. Ekskresinya melalaui kemih dan sebagaian dalam bentuk utuh (Tjay, 2002).
Kontra indikasi:
Hipersensitifitas terhadap enilepril.
Interaksi obat:
Efek antihipertensi dan hipotensi meningkat dengan diuretik, bloker simpatis. Kalium serum meningkat dengan diuretik hemat kalium. Efek antihipertensi menurun dengan indometasin (Olson, 2004).
Dosis:
Hipertensi oral sebagai maleat; 1-2 dd 5 -10 mg a.c. / p.c., pemeliharaan 20 -40 mg sehari; dekomposisi: 1 dd 2,5 mg, maksimum 20 mg sehari. Untuk injeksi digunakan larutan enalapriat 1 mg/ml
Kekuatan obat:
5 mg, 10 mg/tablet
Bentuk sediaan:
Tablet dan injeksi

Nama paten:
Meipril® (meiji)
Tenace® (Combiphar)
Tenazide® (Combiphar)
Diuretik
a.     Furosemid
Indikasi:
Diuretik yang dipilih untuk pasien dengan GFR rendah dan kedaruratan hipertensi. Juga edema, edema paru, dan untuk mengeluarkan banyak cairan. Kadangkala digunakan untuk menurunkan kadar kalium serum (Olson james, 2004).
Diuretik loop merupakan obat pilihan utama untuk menurunkan edema paru-paru akut pada gagal jantung kongestif. Karena awitan cepat, maka obat ini berguna untuk sirkulasi darurat, seperti edema paru-paru akut, yang memerlukan diuresis yang kuat dan cepat. Loop diuretic (bersamaan dengan hidrasi) juga berguna dalam mengobati hiperkalsemia karena obat-obat ini merangsang sekresi ca++ di tubulus (Mycek, 2001).
Mekanisme kerja:
Menghambat reabsorpsi klorida dalam pars asendens ansa Henle tebal. K+ banyak hilang kedalam urin (Olson james, 2004).
Loop diuretic menghambat kotranspor Na+/K+/Cl- dari membran lumen pada pars asendes ansa Henle. Karena itu reabsorpsi Na+, K+ dan Cl- menurun (Mycek, 2001).
Efek samping:
Hiponatremia, hipokalemia, dehidrasi, hipotensi, hiperglikemia, hiperurisemia, hipokalsemia, ototoksisitas, alergi sulfonamid, hipomagnesemia, alkalosis, hipokloremik, hipovolemia (Olson james, 2004).
Pada injeksi i.v. terlalu cepat dan jarang terjadi ketulian (reversibel) dan hipotensi. Hipokalemia reversibel dapat terjadi pula (Tjay, 2002).
Farmkokinetik:
PO/IV. 95% terikat protein, dieliminasi dalam bentuk tak terubah oleh ginjal (Olson james, 2004).
Mulai kerjanya pesat, oral dalam 0,5 – 1 jam dan bertahan 4 – 6 jam, intravena dalam beberapa menit dan 2,5 jam lamanya. Resorpsinya dari usus hanya lebih kurang 50%, PP-nya ca 97%, plasma t1/2-nya 30 – 60 menit, ekskresinya melalui kemih secara utuh, pada dosis tinggi juga lewat empedu (Tjay, 2002).
Diuretik loop diberikan peroral atau parenteral. Masa kerja relatif singkat, 1 sampai 4 jam (Mycek, 2001).
Kontra indikasi:
Anuria, kekurangan elektrolit (Olson james, 2004).

Interaksi obat:
Meningkatkan toksisitas obat yang ototoksik dan nefrotoksik serta litium. Probenesid dan indometasin menghambat efek diuretik furosemid. Meningkatkan efek obat hipertensi (Olson james, 2004).
Dosis:
Pada udema: oral 40-80 mg pagi p.c., jika perlu atau pada insufisiensi ginjal sampai 250 – 4000 mg sehari dalam 2 – 3 dosis. Injeksi i.v. (perlahan) 20 -40 mg, pada keadaan kemelut hipertensi sampai 500 mg (Tjay, 2002).
Umumnya pasien membutuhkan kurang dari 600 mg/hari. Dosis anak 2 mg/kgBB, bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 6 mg/kgBB.
Kekuatan Obat:
10 mg/ml injeksi; 20mg,  40 mg, 80 mg/tablet
Bentuk sediaan:
Tablet dan injeksi
Nama paten:
Cetasix® (Soho)
Furosetic® (Dupa)
Furosix® (Landson)
Impugan® (Dumex)
Lasix® (Hoechst)
Naclex® (Pharos)
Salurix® (kalbe)
Uresix® (Sanbe)
b.     Spironolakton
Indikasi:
Digunakan dengan thiazid untuk edema (pada gagal jantung kongestif), sirosis, dan sindrom nefrotik. Juga untuk mengobati atau mendiagnosis hiperaldosteronisme (Olson james, 2004).
Mekanisme kerja:
Antagonis aldosteron (aldosteron menyebabkan retensi Na+). Juga memiliki kerja yang serupa dengan amilorid (Olson james, 2004).
Spironolakton merupakan suatu antagonis aldosteron yang bersaing dengan aldosteron untuk mencapai reseptor sitoplasma intraseluler. Kompleks spironolakton-reseptor bersifat inaktif, mencegah translokasi kompleks reseptor kedalam inti dari sel target, dengan demikian tidak berikatan dengan DNA. Hal ini meyebabkan kegagalan dalam untuk memproduksi enzim yang dalam keadaan normal disintesis sebagai jawaban atas aldosteron. Protein mediator ini dalam keadaan normal merangsang tempat pertukaran Na+/K+ ditubulus renalis rektus. Jadi, kekuatan protein mediator mencegah reabsorbsi Na+ dan karena itu juga sekresi K+ dan H+ (Mycek, 2001).
Efek samping:
Seperti amilorid. Juga menyebabkan ketidakseimbangan endokrin (jerawat, kulit berminyak, hirsutisme, ginekomastia) (Olson james, 2004).
Pada penggunaan lama dan dosis tinggi efeknya andandrogen dengan ginekomastia, gangguan potensi dan libido pad pria, sedangkan pada wanita nyeri buah dada dan gangguan haid (Tjay, 2002).
Farmkokinetik:
Resorpsinya dari usus tidak lengkap dan diperbesar oleh makanan. PP-nya 98%. Dalam hati zat ini dirombak menjadi metabolit aktif, antra lain kanrenon, yang diekskresikan melalui kemih dan tinja. Plasma t1/2-nya sampai 2 jam, kanrenon 20 jam (Tjay, 2002).
PO. Dimetabolisme luas dihati menjadi sebuah metabolit aktif. Metabolitnya 98% terikat protein, waktu paruh 1 – 1,5 hari (Olson, 2004).
Kontra indikasi:
Anuria, insufisiensi ginjal berat, hiperkalemia. Hindari pada pasien diabetes (Olson, 2004).
Interaksi obat:
Seperti amilorid. Juga meningkatkan resiko toksiistas digoksin dan menurunkan efek vasopresor norepinefrin (Olson, 2004).
Dosis:
Oral 1 – 2 dd 25 – 100 mg pada waktu makan (Tjay, 2002).
Kekuatan Obat:
25 mg/tablet; 100 mg/tablet

Bentuk sediaan:
Tablet
Nama paten:
Spiropent® (Boehringer man.)
Sporanox® (Janssen)
Stomagel® (Darya varia)
c.      Hidroklortiazid (HCT)
Indikasi:
Obat awal yang ideal untuk hipertensi, edema kronik, hiperkalsiuria idiopatik. Digunakan untuk menurunkan pengeluaran urin pada diabetes insipidus (GFR rendah menyebabkan peningkatan reabsorpsi dalam nefron proksimal, hanya berefek pada diet rendah-garam) (Olson, 2004).
Mekanisme kerja:
Menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendes ansa Henle tebal dan awal tubulus distal. Hilangnya K+, Na+ dan Cl- menyebabkan peningkatan pengeluaran urin 3 x. Hilangnya natrium menyebabkan penurunan GFR (Olson, 2004).
Efek samping:
Hipokalemia, hiponatremia, hiperglikemia, hiperurisemia, hiperkalesemia, oliguria, anuria, kelemahan, penurunan aliran plasenta, alergi sulfonamid, gangguan saluran cerna (Olson, 2004).

Farmkokinetik:
PO. Diabsorbsi cepat, dieliminasi terutama dalam bentuk tak diubah (Olson, 2004).
Resorpsinya dari usus sampai 80%. PP-nya ca 70% dengan plasma t1/2 6 – 15 jam. Ekskresinya terutama lewat kemih secara utuh (Tjay, 2002).
Kontra indikasi:
Wanita hamil (kecuali jelas diindikasikan untuk edema patologik), anuria (Olson, 2004).
Interaksi obat:
Menambah efek toksik digitalis atau litium. Mengurangi efek vasopresor. Hipokalemia bertambah dengan kortikosteroid atau ACTH. Hipotensi ortostatik bertambah dengan alkohol, barbiturat, atau analgesik narkotik (Olson, 2004).
Dosis:
Hipertensi 12,5 mg pagi p.c., udema 1 – 2 dd 25 – 100 mg, pemeliharaan 25 – 100 mg 2 – 3 x seminggu (Tjay, 2002).
Kekuatan Obat:
10 mg/tab; 12,5 mg/tab; 25 mg/tab
Bentuk sediaan:
Tablet
Nama paten:
Lorinid® (Dumex)
Lodoz® (Merck)
Sectrazide® (Aventis)
Glikosida Jantung
a.     Digoksin
Indikasi:
Gagal jantung, fibrilasi atrium, flutter atrium, takikardi paroksimal. Juga diindikasikan untuk hipoventilasi, shock kardiogenik, dan shock tirotoksik. Sering diberikan dahulu dosis muatan untuk mencapai kadar terapeutik lebih cepat (Olson james, 2004).
Pada dekomposisi jantung dan fibrilasi serambi dengan ritme bilik pesat (Tjay, 2002).
Mekanisme kerja:
Menghambat Na+/K+-ATP-ase (pompa natrium) dan menigkatkan aliran Ca++ ke dalam. Kontaksi ditingkatkan dengan kenaikan Ca++ intrasel. Kenaikan curah jantung dan penurunan ukuran jantung, aliran balik vena, dan volume darah. Menyebabkan diuresis dengan kenaikan perfusi ginjal. Memperlambat kecepatan ventrikel pada fibrilasi atau flutter atrium dengan kenaikan sensitivitas nodus AV terhadap penghambatan vagal. Kenaikan resistensi vaskular perifer (Olson james, 2004).
Efek samping:
Intoksikasi digitalis , bradikardi, blok nodus AV atau SA, aritmia. Juaga anoreksia, mual, muntah, diare, sakit kepala, kelelahan, malaise, gangguan visual dan ginekomastia. Peningkatan resistensi perifer dapat meningkatkan beban kerja jantung, memperburuk kerusakan  iskemik (Olson james, 2004).
Berupa gangguan lambung-usus, mual, muntah, diare dan nyeri perut. Efek lainnya berupa efek sentral, seperti pusing, melihat kuning, letih, lemah otot, gelisah, kekacauan, dan konvulsi. Pada overdose terjadi efek jantung antara lain, gangguan ritme, khususnya ekstrasistol dan fibrilasi bilik berbahaya yang dapat mengakibatkan shock fatal (Tjay, 2002).
Farmakokinetik:
Resorpsinya dari usus tidak lengkap, ca 70%, PP-nya ca 25%, plasma t1/2-nya lebih kurang 40 jam. Dalam hati hanya sebagian kecil dirombak menjadi metabolit inaktif, eksresinya berlangsung lewat kemih terutama secara utuh. Setelah penghentian pengobatan, kerjanya dapat bertahan sampai 4 hari (Tjay, 2002).
PO/IV. Waktu paruh 36 jam, 75% diabsorpsi di saluran cerna, distribusi lambat karena besranya volume distribusi (berkurang pada orang tua), dieksresikana tanpa berubah bentuk dalam urin (tapi tak perlu penyesuaian dosis pada disfungsi ginjal), 25% terikat protein (Olson james, 2004).
Kontra indikasi:
Fibrilasi ventrikel, bradikardi berat, reaksi alergi terhadap glikosida jantung (Olson james, 2004).
Interaksi obat:
Peningkatan resiko toksisitas dengan obat yang mengubah elektrolit serum (diuretik boros kalium, kortikosteroid, thiazid, dan diuretik loop, amfoteresin B, kuinidin, amiodaron). Bloker reseptor adrenergik β, saluran kalsium atau asetilkolinesterase meningkatkan resiko blok AV lengkap. Obat yang mengubah absorpsi saluran cerna dapat mengubah bioavailabilitas (Olson james, 2004).
Kinidin memperlambat eliminasi digoksin sampai lebih kurang 45%, maka dosisnya (loading dan pemeliharaan) perlu dikurangi separuh bila kedua obat diombinasi (Tjay, 2002).
Dosis:
Digitalis oral 0,25 – 0,75 mg sehari a.c. selama 1 minggu, pemeliharaan 1 dd 0,125 – 0,5 mg a.c. (Tjay, 2002).
Kekuatan obat:
0,25 mg/tablet
Bentuk sediaan:
Tablet dan injeksi
Nama paten:
Digoxin® Sandoz (Novartis)
Lanitop® (Boehringer man.)
Lanoxin® (Wellcome)


b.     Digitoksin
Indikasi:
Jarang digunakan karna waktu paruh panjang (bila timbul toksisitas, sulit mengeluarkan obat aktif dari tubuh). Berguna pada pasien dengan gagal ginjal karena tidak dapat mengekskresi digoksin (Olson james, 2004).
Mekanisme kerja:
Menghambat Na+/K+-ATP-ase (pompa natrium) dan menigkatkan aliran Ca++ ke dalam. Kontaksi ditingkatkan dengan kenaikan Ca++ intrasel. Kenaikan curah jantung dan penurunan ukuran jantung, aliran balik vena, dan volume darah. Menyebabkan diuresis dengan kenaikan perfusi ginjal. Memperlambat kecepatan ventrikel pada fibrilasi atau flutter atrium dengan kenaikan sensitivitas nodus AV terhadap penghambatan vagal. Kenaikan resistensi vaskular perifer (Olson james, 2004).
Efek samping:
Intoksikasi digitalis , bradikardi, blok nodus AV atau SA, aritmia. Juaga anoreksia, mual, muntah, diare, sakit kepala, kelelahan, malaise, gangguan visual dan ginekomastia. Peningkatan resistensi perifer dapat meningkatkan beban kerja jantung, memperburuk kerusakan  iskemik (Olson james, 2004).


Farmakokinetik:
PO/IM/IV. Waktu paruh 7 hari, 100% absorpsi saluran cerna, 97% terikat protein, distribusi serupa dengan digoksin, metabolisme hati, eksresi empedu (Olson james, 2004).
Plasma t1/2-nya panjang sekali, 4 – 6 hari terutama perombakan dalam hati menjadi metabolit inaktif. Karena eksresinya lambat, maka bahaya kumulasipun lebih besar dari digoksin (Tjay, 2002).
Kontra indikasi:
Fibrilasi ventrikel, bradikardi berat, reaksi alergi terhadap glikosida jantung (Olson james, 2004).
Interaksi obat:
Peningkatan resiko toksisitas dengan obat yang mengubah elektrolit serum (diuretik boros kalium, kortikosteroid, thiazid, dan diuretik loop, amfoteresin B, kuinidin, amiodaron). Bloker reseptor adrenergik β, saluran kalsium atau asetilkolinesterase meningkatkan resiko blok AV lengkap. Obat yang mengubah absorpsi saluran cerna dapat mengubah bioavailabilitas (Olson james, 2004).
Dosis:
Pemeliharaan oral 0,05 – 0,2 mg sehari
Bentuk sediaan:
Injeksi dan tablet
Nama paten:
Digitalin® dan Crystodigin®
Simpatomimetik/ Dopaminergika
a.     Dopamin
Indikasi:
Digunakan pada keadaan shock, antar lain sesudah infrak jantung dan bedah jantung terbuka juga pada dekomposisi yang bertahan (Tjay, 2002).
Mekanisme kerja:
Dopamin, suatu prekursor metabolik awal norepinefrin, terjadi alamiah dalam SSP dalam ganglia basilis yang berfungsi sebagai neurotransmitter seperti halnya pada medula adrenalis. Dopamin dapat mengaktifkan reseptor adrenergik α dan β. Sebagai contoh pada dosis tinggi, obat ini menimbulkan vasokonstriksi dengan mengaktifkan reseptor alfa, sebliknya pada dosis rendah, obat akan memacu reseptor jantung β. Selain itu, reseptor dopaminergik D1 dan D2 berbeda dengan respetor adrenergik alfa dan beta yang terdapat pada mesenterik tepi dan paparan vaskular ginjal, dimana ikatan dopamin menyebabkan vasodilatasi. Reseptor D2 terdapat pada neuron adrenergik presinaptik, tempat aktivitasnya mengganggu pelepasan norepinefrin (Mycek, 2001).
Neurotransmitter ini merupakan prekusor langsung dari adrenalin dan noradrenalin dan diinaktifkan oleh MAO, sehingga secara oral tidak aktif. Pada dosis rendah bekerja terhadap reseptor DA1 dengan efek vasodilatasi dan penderasan sirkulais ginjal. Dosis sedang menstimulasi reseptor b1-adrenerg dengan efek ionotrop positif dan peningkatan volume menit jantung. Pada dosisi tinggi bekerja secara tak langsung terhadap reseptor a1-adrenerg dengan efek vasokonstriksi dan meningkatnya tekanan darah (Tjay, 2002).
Efek samping:
Berupa gangguan ritme, nyeri kepala, nausea, muntah dan rasa sesak. Pada dosis tinggi menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi. Mengenai penggunaan dopamin selama masa hamil dan laktasi belum terdapat cukup data, begitu pula dopaminergika lainnya (Tjay, 2002).
Efek kardiovaskular: dopamin menggunakan efek pacu terhadap reseptor beta pada jantung, sehingga menimbulkan efek ionotropik dan kronotropik. Pada dosis sangat tinggi, obat ini justru mengaktifkan reseptor α pada pembuluh darah sehingga terjadi vasokonstriksi (Mycek, 2001).
Kontra indikasi:
Feokromositoma
Dosis:
Pada infus intravena pada shock 1 – 5 mcg/kg/menit, pada dekompensasi semula 0,5 – 1 mcg/kg/menit. Kemudian secara bertahap perlahan-lahan dinaikkan sampai dosis pemeliharaan: 20 mcg/kg/menit (Tjay, 2002).
Kekuatan obat:
10; 20 mg/ml injeksi
Bentuk sediaan:
Injeksi intravena
Nama paten:
Dopamin Guilini® (S.Duphar)
Indop® (Fahrenheit)
Dopamet® (dumex)
Dotur® (Biochemie)
Doveri® (Kimia Farma)
b.     Dobutamin
Indikasi:
Untuk meningkatkan curah jantung pada gagal jantung kronik. Dapat digunakan dengan obat penurun beban akhir. Juga digunakan untuk mengobati shock (Olason james, 2004).
Dobutamin digunakan untuk meningkatkan curah jantung pada gagal jantung kongestif. Obat ini meningkatkan curah jantung dengan sedikit perubahan denyut jantung dan tidak jelas meningkatkan kebutuhan oksigen miokard (Mycek, 2001).
Mekanisme kerja:
Agonis adrenergik yang memilih reseptor β1. Dengan dosis sedang, meningkatkan kontraktilitas tanpa meningkatkan frekuensi jantung atau tekanan darah. Efek minimal pada pembuluh darah (Olson james, 2004).
Dobutamin adalah derivat sintesis yang primer bekerja memperkuat daya kontraksi jantung akibat stimulasi reseptor β1-nya (Tjay, 2002).
Efek samping:
Yang terpentik berupa takikardia dan gangguan ritme (Tjay, 2002).
Takikardi, hipotensi, mual, sakit kepala, palpitasi, gejala angina, sipnea, aritmia ventrikel (Olson james, 2004).
Farmakokinetik:
IV. waktu paruh 2,4 jam. Perlu infus kontinu untuk mempertahankan efek terapeutiknya (Olson james, 2004).
Kontra indikasi:
Hipersensitivitas terhadap dobutamin, stenosis subaorta hipertrofi idiopatik (olson james, 2004).
Dosis:
Infus i.v. 2,5 – 10 mcg/kg/menit, sampai maksimum 40 mcg.
Kekuatan obat:
250 mg/vial injeksi
Bentuk sediaan:
Infus intravena
Nama paten:
Dobutrex® (Eli Lily)
Dobutamin Guilini® (S. Duphar)
Dogmatil® (Delagrange)

c.      Ibopamin
Indikasi:
Digunakan khusus untuk dekompensasi ringan dan dikombiansikan dengan diuretikum. Pada dekompensasi berat, obat ini tidak dianjurkan karena terdapat indikasi nyata mengenai mortilitas yang meningkat (Tjay, 2002).
Mekanisme kerja:
Prodrug ini (1991) dalam darah dihidrolisa menjadi zat aktif epinin (N-metildopamin). Khusus bekerja pada reseptor DA dengan vasodilatasi perifer, sedangkan kerja beta-adrenergnya (peningkatan kontraktilitas jantung) lemah. Pada dosis tinggi juga berkhasiat alfa-adrenerg 9Tjay, 2002).
Efek samping:
Debar jantung, takikardia, gangguan ritme dan lambung-usus, nyeri kepala dan pusing, hipotensi dan hipertensi (Tjay, 2002).
Farmakokinetik:
Plasma t1/2-nya 45 menit. Ekskresinya berlangsung melalui kemih, terutama sebagai metabolit (Tjay, 2002).
Kontra indikasi:
Hipersensitivitas terhadap ibopamine dan penederita pheochromocytoma


Interaksi obat:
Antagonis dopamin (metoklopramida, domperidon) dapat memperlemah efek ibopamine. Adrenolitika dapat memperkuat vasokonstriksi alfa-adrenerg. Kombinasinya dengan nifedipin dapat mengakibatkan hipotensi hebat, sedangkan penghambatan MAO dapat mengurangi perombakan ibopamin menjadi epinin (Tjay, 2002).
Dosis:
Oral 3 dd 100 mg a.c atau 2 dd 200 mg a.c. bersama thiazid (Tjay, 2002).
Kekuatan obat:
Tablet 50 mg dan 100 mg
Bentuk sediaan:
Tablet
Nama paten:
Inopamil® (Zambon)
Ibufen® (Bernofarm)
Ibustrin® (Farmitalia)
Inhibitor Fosfodiesterase
a.     Amrinon
Indikasi:
Ditambahkan pada terapi digoksin bila gagal jantung menetap meskipun telah diberi digoksin (Olson james, 2004).

Mekanisme kerja:
Menghambat fosfodiesterase (enzim yang memecah cAMP), cAMP meningkatkan  ambilan kalsium. Meningkatkan kontraktilitas, isi sekuncup, fraksi ejeksi, dan kecepatan sinus. Menurunkan resistensi perifer (Olson james, 2004).
Efek samping:
Intoleransi saluran cerna, hepatotoksisitas, demam, trombositopenia reversibel (20%). Tidak aritmogenik (Olson james, 2004).
Berupa gangguan lambung-usus, demam, hipotensi dan aritmia (Tjay, 2002).
Farmakokinetik:
i.v. waktu paruh 6 jam, sebagian dimetabolisme dihati, ikatan protein plasma rendah (olson james, 2004).
Dengan injeksi, efek maksimal timbul setelah 10 menit dan tergantung dosisnya bertahan antara 0,5 – 2 jam. Plasma t1/2-nya lebih kurang 3,6 jam (Tjay, 2002).
Kontra Indikasi:
Hipersensitivitas terhadap amrinon (olson james, 2004).
Interaksi Obat:
Amrinon meningkatkan diuresis pada pasien yang diberi diuretik. Inotropi digitalis dan resiko toksisitas meningkat (amrinon menyebabkan hipokalemia). Hipotensi hebat dengan disopiramid (Olson james, 2004).
Dosis:
Infus i.v 5 – 10 mcg/kg/menit
Bentuk sediaan:
Injeksi intravena
Nama Paten:
Inocor®
b.     Milrinon
Indikasi:
Ditambahkan pada terapi digoksin bila gagal jantung menetap meskipun telah diberi digoksin (Olson james, 2004).
Mekanisme kerja:
20 kali lebih poten dibanding amrion. Kerja sama yaitu Menghambat fosfodiesterase (enzim yang memecah cAMP), cAMP meningkatkan  ambilan kalsium. Meningkatkan kontraktilitas, isi sekuncup, fraksi ejeksi, dan kecepatan sinus. Menurunkan resistensi perifer (Olson james, 2004).
Efek samping:
Efek smaping sangat sedikit. Pernah dilaporkan sakit kepala dan pemburukan angina (Olson james, 2004).
Farmakokinetik:
IV/ p .o. diabsorpsi baik, waktu paruh pendek (1,5 jam) (Olson james, 2004).

Dosis:
Infus i.v 0,375 – 0,75 mcg/kg/menit
Bentuk sediaan:
Infus intravena dan peroral
Nama Paten:
Primacor®
Corotrop®



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar